Home / Politics & Socials / JK di World Peace Forum: Tidak Ada Orang yang Ingin Jadi Korban Perang ‎

JK di World Peace Forum: Tidak Ada Orang yang Ingin Jadi Korban Perang ‎

‎Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), usai menyampaikan pidato pada pembukaan Forum Perdamaian Dunia ke-9 (World Peace Forum/WPF) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/11/2025).

‎‎Jakarta,– Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menyerukan pentingnya komitmen global untuk menciptakan perdamaian dunia dalam pidatonya pada pembukaan Forum Perdamaian Dunia ke-9 (World Peace Forum/WPF) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/11).

‎‎Di hadapan para tokoh lintas negara dan agama, JK menegaskan bahwa perang hanya melahirkan penderitaan, dan tidak ada satu pun manusia yang ingin hidup di tengah konflik.

‎“Semua orang ingin hidup damai. Tidak ada orang yang berpikir untuk menjadi korban perang,” ujar JK dalam sambutannya.

‎‎JK, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), menekankan, perdamaian sesungguhnya menjadi inti dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam ajaran Islam.

‎‎“Setiap hari kita mengucap salam —Assalamu’alaikum— yang berarti damai. Dalam salat pun, kita mengakhiri dengan doa untuk kedamaian. Itu menunjukkan bahwa inti kehidupan manusia adalah kedamaian,” ungkapnya.

‎‎Menurut JK, pelaksanaan forum di Jakarta mencerminkan peran Indonesia sebagai pelopor perdamaian dunia.

‎‎“Pelaksanaan forum ini di Jakarta menjadi simbol bahwa Indonesia berada di garis depan memperjuangkan perdamaian dunia. Presiden Prabowo juga telah menunjukkan upaya yang sama di PBB,” katanya.

‎‎Gerakan Moral Lintas Bangsa dan Agama

‎‎Forum Perdamaian Dunia ke-9 diselenggarakan oleh Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), lembaga yang dipimpin oleh Prof. Din Syamsuddin. Forum ini mempertemukan tokoh-tokoh lintas agama, negara, dan profesi yang memiliki komitmen terhadap perdamaian.

‎Din menjelaskan, WPF bukan sekadar pertemuan akademik, tetapi gerakan moral global yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan spiritualitas sebagai dasar terciptanya perdamaian sejati.

‎“Forum ini adalah gerakan moral dari para pencipta perdamaian dunia. Karena kami bukan pemerintah, maka berada di tataran moral untuk menyebarkan ide-ide tentang pentingnya perdamaian,” ujar Din.

‎‎Mengusung tema “One Humanity, One Destiny, One Responsibility” atau Satu Kemanusiaan, Satu Tujuan, Satu Tanggung Jawab, forum ini menyoroti pentingnya jalan tengah (the middle path) dalam menyikapi ekstremitas global.

‎‎“Dari Islam kita mengenal wasathiyatul Islam —ajaran moderasi, keseimbangan, dan keadilan— sementara dari kebudayaan Tionghoa terdapat nilai-nilai harmoni dan kebajikan. Keduanya bertemu dalam semangat kerja sama dan kesejahteraan bersama,” kata Din Syamsuddin.

‎Forum tahun ini dihadiri oleh tokoh-tokoh dunia, antara lain Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, mantan Presiden Kosovo Atifete Jahjaga, serta perwakilan dari Al-Azhar University Mesir, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Religions for Peace Asia.

‎‎Delegasi dari lebih 30 negara turut memberikan apresiasi terhadap model diplomasi budaya Indonesia yang menempatkan perdamaian sebagai panggilan moral, bukan sekadar agenda politik.

‎‎Perwakilan Iran, Hujjat-ul-Islām Hamid Shahriari, menyebut forum tersebut menjadi platform penting untuk menjembatani tradisi rasional Islam dan kebudayaan Tionghoa bagi kolaborasi global.

‎‎Kehadiran berbagai pemimpin dunia di Jakarta menunjukkan bahwa Indonesia semakin diakui sebagai jembatan antarperadaban, dengan kombinasi nilai-nilai Islam moderat, demokrasi, dan kearifan Asia.

‎‎Dalam penutupnya, Jusuf Kalla kembali menegaskan perdamaian bukan sekadar konsep politik, melainkan jiwa kemanusiaan yang universal.

‎‎“Perdamaian bukan agenda politik, tapi semangat kemanusiaan. Forum ini mengingatkan kita bahwa peradaban sejati hanya bisa berdiri di atas kedamaian,” tegas JK.

‎‎Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum) pertama kali diadakan tahun 2006 dan telah menjadi wadah dialog lintas iman dan budaya paling konsisten di Asia. Edisi ke-9 ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat diplomasi moral dan budaya di tingkat global.

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *