Jakarta- DITJEN KPM ( KOMUNIKASI PUBLIK DAN MEDIA ) KEMKOMDIGI
bersama Dr. H. Syamsu Rizal M.I., S.Sos., M.Si. (Anggota Komisi I DPR RI) mengadakan webinar forum diskusi publik dengan tema:
“AKSELERASI INVESTASI DAN PERDAGANGAN GLOBAL”
Pada hari RABU lalu , 11 MARET 2026, Pukul 10.00 – 12,00 WIB, Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Narasumber 1 Dr. H. Syamsu Rizal M.I., S.Sos., M.Si. (Anggota Komisi I DPR RI)
Pada era globalisasi saat ini tidak ada lagi negara, kelompok, atau individu yang dapat hidup secara mandiri tanpa berinteraksi dengan pihak lain. Setiap negara perlu membangun kerja sama, berinteraksi, serta berbagi sumber daya dengan negara lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh semakin terbatasnya sumber daya alam, energi, maupun pangan yang tersedia, sehingga mendorong setiap negara untuk saling bekerja sama dalam menghadapi tantangan global. Dalam kondisi tersebut, narasumber menekankan pentingnya bagi setiap negara maupun individu untuk mampu menentukan potensi dan keunggulan yang dimiliki. Tidak semua sumber daya dapat dimanfaatkan secara bersamaan, sehingga perlu adanya fokus dalam menentukan sumber daya apa yang akan dikembangkan serta nilai apa yang ingin dibangun sebagai keunggulan utama. Konsep value advantage atau keunggulan nilai menjadi sangat penting, karena setiap individu maupun negara memiliki karakteristik, potensi, serta keunikan masing-masing yang dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi persaingan global.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam konteks perdagangan global, keunikan dan keunggulan tersebut perlu dikembangkan menjadi nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat nyata. Setiap individu pada dasarnya memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda, sehingga penting untuk mengenali potensi tersebut dan mengembangkannya secara optimal. Ketika seseorang bekerja sesuai dengan bakat dan minatnya, maka proses pengembangan kemampuan akan menjadi lebih mudah dan bahkan dapat memberikan kepuasan dalam menjalankannya. Narasumber juga menyoroti dinamika ekonomi global yang saat ini dihadapkan pada berbagai ketidakpastian, seperti perang dagang, perkembangan teknologi, serta perubahan sistem produksi. Transformasi teknologi, misalnya melalui perkembangan teknologi digital dan inovasi seperti 3D printing, telah mengubah pola produksi yang sebelumnya bersifat massal menjadi lebih personal dan fleksibel. Perubahan ini tentu akan memengaruhi pola investasi, perdagangan, serta strategi pengembangan ekonomi di berbagai negara.
Dalam konteks Indonesia, pemerintah saat ini juga tengah mendorong berbagai kebijakan strategis, salah satunya melalui program hilirisasi sumber daya alam yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai penutup, narasumber mengingatkan bahwa setiap individu perlu terus mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Keterampilan, kebiasaan, serta kemampuan yang dimiliki saat ini perlu terus ditingkatkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini penting karena berbagai perubahan dan disrupsi teknologi dapat membuat keterampilan yang dimiliki saat ini menjadi tidak lagi relevan di masa depan. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan terus memperbarui pengetahuan, mengikuti perkembangan informasi, serta tidak takut untuk beradaptasi dengan perubahan. Narasumber menegaskan bahwa satu hal yang pasti dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri, sehingga kemampuan untuk beradaptasi menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Narasumber 2 Mirna Rizkiana (Penata kelola Penanaman Modal Ahli Madya BKPM)
narasumber menyoroti perubahan fundamental pada lanskap dunia yang kini tengah bertransisi dari era VUCA menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Narasumber menekankan bahwa tantangan saat ini tidak lagi sekadar ketidakpastian biasa, melainkan telah bergeser menjadi kondisi yang “rapuh,” di mana gangguan kecil di satu titik dapat memicu dampak masif yang sulit diprediksi dengan logika lama. Strategi adaptasi tradisional kini harus berevolusi menjadi penguatan resiliensi dan inovasi yang lebih tangguh, sebagaimana terlihat pada fenomena Surabaya yang kini muncul sebagai pusat ekonomi digital baru di Indonesia dengan keterlibatan aktif generasi muda sebagai motor penggeraknya.
Memasuki pembahasan mengenai arus modal, narasumber membedah dinamika investasi global yang menunjukkan tren cukup kontras. Di satu sisi, pasar swasta mengalami periode lesu dengan penggalangan dana terendah sejak 2016, namun di sisi lain, Investasi Langsung Asing (FDI) global justru diproyeksikan tumbuh 14% hingga mencapai angka $1,6 Triliun pada tahun 2025. Narasumber mencatat bahwa investor kini mulai mengalihkan fokus mereka pada sektor-sektor strategis seperti teknologi hijau, energi terbarukan, transportasi listrik, dan infrastruktur digital demi mencari stabilitas jangka panjang. Meski peluang terbuka lebar, narasumber mengingatkan adanya ancaman serius dari fragmentasi geopolitik dan inflasi global yang memicu kecemasan pasar secara sistemik.
Lebih jauh lagi, narasumber memaparkan risiko nyata yang membayangi perdagangan internasional, salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik akibat ketegangan AS-Iran yang secara dramatis mendorong harga emas hingga menyentuh angka USD 5.278 per ons pada Maret 2026. Selain faktor eksternal tersebut, kebijakan proteksionisme dan larangan impor di berbagai wilayah juga dinilai narasumber semakin memperumit rantai pasok global. Sebagai langkah mitigasi, narasumber menyarankan para pelaku usaha untuk segera melakukan diversifikasi portofolio investasi serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi pergerakan pasar dan risiko keamanan siber yang kian mengancam integritas transaksi digital.
Terkait strategi perdagangan yang adaptif, narasumber menjelaskan adanya pergeseran paradigma dari model Just-in-Time yang efisien namun rentan, menuju model Just-in-Case yang lebih mengutamakan keamanan pasokan melalui sistem cadangan yang lebih kuat. Walaupun total nilai perdagangan global berhasil menyentuh rekor sebesar $35 Triliun, narasumber memberikan catatan penting bahwa pertumbuhan volume secara keseluruhan sebenarnya sedang mengalami perlambatan di angka 2,6%. Oleh sebab itu, narasumber sangat menekankan pentingnya strategi friend-shoring dan diversifikasi geografis, serta penggunaan instrumen kredit perdagangan untuk menjaga likuiditas bisnis di tengah gangguan pasok dan gejolak politik dunia.
Sebagai penutup, narasumber memposisikan digitalisasi sebagai katalisator utama untuk meredam kerentanan di era BANI. Pemanfaatan teknologi seperti IoT melalui sensor pintar terbukti mampu mengoptimalkan logistik dengan potensi reduksi biaya hingga 45%, sementara platform e-commerce dipandang narasumber sebagai penyelamat bagi UMKM agar tetap terhubung dengan pasar internasional. Akhirnya, narasumber memberikan rekomendasi strategis bagi investor untuk memprioritaskan kemandirian teknologi dan ketahanan iklim. Bagi pembuat kebijakan, narasumber mendorong penguatan perjanjian perdagangan regional serta peningkatan transparansi pasar melalui adopsi teknologi blockchain guna menjamin keamanan transaksi lintas batas.
Narasumber 3 Wawan Mataliu (Tokoh Pemuda)
Dalam pemaparan materi mengenai akselerasi investasi global Indonesia, disampaikan bahwa arah kebijakan investasi nasional difokuskan pada transformasi ekonomi menuju pemerataan pembangunan serta peningkatan nilai tambah. Visi yang diusung menuju tahun 2026 adalah menjadikan Indonesia sebagai “safe haven” ekonomi dunia, yaitu negara yang stabil dan menarik bagi investor global. Transformasi tersebut diarahkan dari pola ekonomi yang sebelumnya bersifat ekstraktif atau berbasis ekspor bahan mentah, menuju ekonomi yang menghasilkan nilai tambah melalui penguatan sektor manufaktur dan jasa.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa target investasi hingga tahun 2026 menekankan pada investasi yang berkelanjutan dan berkeadilan, sehingga tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat. Dalam tiga tahun terakhir, realisasi investasi nasional menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2023 realisasi investasi mencapai sekitar 1.418,9 triliun rupiah, meningkat pada tahun 2024 menjadi 1.714,0 triliun rupiah, dan pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 1.900,0 triliun rupiah. Pertumbuhan ini relatif stabil di atas 15 persen meskipun Indonesia sedang mengalami masa transisi kepemimpinan nasional.
Dari sisi sektoral, investasi di bidang mineral khususnya hilirisasi logam memberikan kontribusi sekitar 30–35 persen dari total realisasi investasi nasional. Wilayah yang menjadi pusat pengembangan sektor ini antara lain Sulawesi Tengah dan Maluku Utara, dengan fokus pada pembangunan industri smelter untuk komoditas seperti nikel, bauksit, dan tembaga yang menjadi bagian penting dari rantai pasok industri global. Sementara itu, pada sektor non-mineral, investasi juga diarahkan pada penguatan industri manufaktur dan jasa, seperti industri makanan, transportasi, serta sektor logistik dan pergudangan. Sektor ini memiliki keunggulan dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta memberikan efek pengganda terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan demikian, sektor mineral berperan besar dalam menghasilkan devisa negara, sedangkan sektor non-mineral berkontribusi signifikan dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.








Satu Komentar
Start sharing, start earning—become our affiliate today!