Home / Pendidikan Agama / Dua Sisi Dalam diri Nabi SAW sebagai Basyar dan sebagai Habibullah

Dua Sisi Dalam diri Nabi SAW sebagai Basyar dan sebagai Habibullah

Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.

‎Dua sisi Nabi Muhammad SAW sebagai Basyar (manusia biasa) dan Habibullah (kekasih Allah) merupakan dua dimensi yang saling melengkapi dalam kedudukan beliau. Kombinasi ini menegaskan bahwa beliau adalah uswatun hasanah (teladan terbaik) yang dapat dicontoh oleh manusia, sekaligus utusan mulia yang terhubung langsung dengan Allah SWT.

‎Dua sisi Nabi Muhammad SAW sebagai Basyar (manusia biasa) dan Habibullah (kholilullah) merupakan dua dimensi yang saling melengkapi dalam kedudukan beliau. Kombinasi ini menegaskan bahwa beliau adalah uswatun hasanah (teladan terbaik) yang dapat dicontoh oleh manusia, sekaligus utusan mulia yang terhubung langsung dengan Allah SWT.

‎Berikut adalah rincian dari kedua sisi tersebut:

‎‎1. Rasulullah sebagai Basyar (Manusia Biasa/Biologis) sebagai basyar, Rasulullah SAW adalah manusia fisik yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan normal (al-ardul basyariyah). Beliau bukan malaikat dan bukan makhluk halus. Beliau makan, minum, tidur, beristri, merasa lelah, sakit, dan mengalami penuaan. Beliau merasakan sedih (seperti saat wafatnya putra beliau atau istrinya), bahagia, dan marah untuk urusan agama. Sebagaimana manusia lainnya, Rasulullah SAW wafat. Menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat dipraktikkan oleh manusia dan Nabi adalah teladan nyata. Meskipun basyar, beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang membedakannya dengan manusia biasa.

‎Allah berfirman :

‎قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ…

‎‎Katakanlah (wahai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), Aku hanyalah manusia biasa seperti kalian yang diberi wahyu (untuk menyampaikan) bahwa, Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa… (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

‎Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi berpendapat, hanya wahyu dan kerasulan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membedakan sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sosok manusia lain. Keutamaan inilah yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya. Ulama kharismatik asal Mesir itu juga menjelaskan, ayat tersebut menegaskan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan dari golongan malaikat.

‎‎Ada sebuah adagium yang sering diungkapkan oleh para ulama, Muhammadun basyarun walaisa kal basyari. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu manusia, tapi bukan seperti manusia (umumnya). Bagaimana bisa sosok Nabi yang seorang manusia tapi tidak seperti manusia lainnya.

‎2. Sisi Habibullah atau Khalilullah (kekasih Allah) menekankan posisi beliau yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Ini adalah dimensi spiritual dan risalah beliau. Nabi Muhammad SAW dijaga oleh Allah SWT dari dosa dan kesalahan dalam menyampaikan risalah. Kemuliaan Akhlak: Beliau memiliki akhlak paling mulia dan menjadi percontohan tertinggi di alam semesta. Mengalami peristiwa seperti Isra Mi’raj, pembelahan dada untuk penyucian hati oleh malaikat Jibril. Sebagai kekasih Allah, setiap tindakan beliau (Sunnah) menjadi sumber hukum (tasyri’iyah) yang wajib diikuti oleh umat Islam. Beliau diberikan hak untuk memberikan syafaat di hari kiamat.

‎Nabi SAW. bersabda ;

‎إنّ الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً

‎Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai khalil-Nya seperti Ia menjadikan Ibrahim sebagai Khalil-Nya (HR. Muslim)

‎Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,

‎لو كنت متخذاً من أهل الأرض خليلاً لاتخذت أبا بكر خليلاً،ولكن صاحبكم خليل الرحمن

‎Jika aku boleh menjadikan penduduk bumi sebagai khalilku, aku pasti menjadikan Abu Bakr sebagai khalilku, akan tetapi aku adalah khalilurrahman

‎(HR. Muslim)

‎والله اعلم

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *