Home / Politics & Socials / Ubedilah Badrun Resmi Luncurkan Buku “Jejak Gelap Kekuasaan”: Kritik Tajam Atas Satu Dekade Pemerintahan.

Ubedilah Badrun Resmi Luncurkan Buku “Jejak Gelap Kekuasaan”: Kritik Tajam Atas Satu Dekade Pemerintahan.

Jakarta —- Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, resmi meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Jejak Gelap Kekuasaan di Beranda Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, Rabu (28/5/25).

Buku ini merupakan karya keenam Ubedilah dan diterbitkan oleh Bibliosmia, dengan dukungan dari Strategi Institute dan Nurani 98.

Jejak Gelap Kekuasaan memuat kumpulan tulisan opini ilmiah populer yang ditulis selama satu dekade terakhir, mengulas dinamika kekuasaan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam buku ini, Ubedilah menyoroti berbagai persoalan mendasar seperti pelemahan institusi, krisis demokrasi, dan menguatnya kekuasaan yang ia nilai otoriter.

“Buku ini menggunakan perspektif ilmu sosial kritis untuk membedah kekuasaan sepanjang era Jokowi. Simulacra politik, kleptokrasi, oligarki, despotisme baru, legalisme otokratis, hingga neo-otoritarianisme—semuanya adalah fakta empirik yang menguatkan kesimpulan saya: warisan kekuasaan selama 10 tahun ini adalah warisan kegelapan bagi Indonesia,” ujar Ubedilah.

Tak hanya menyajikan kritik, buku ini juga menjadi testimoni intelektual yang menolak kompromi dengan kekuasaan. Antonius Danar dari Strategi Institute mengungkapkan bahwa Ubedilah pernah ditawari jabatan strategis di pemerintahan, namun menolaknya demi menjaga independensi dan integritas.

“Menolak tawaran kekuasaan bukan karena anti pada kekuasaan itu sendiri, tetapi karena ada pertimbangan nurani. Apakah tawaran itu tulus atau bagian dari kooptasi? Kang Ubed ia dipanggil memilih tetap berada di luar kekuasaan, di jalur kritis,” jelas Antonius.

Peluncuran buku ini berlangsung meriah, dihadiri oleh beragam kalangan—mulai dari aktivis 1998, mahasiswa, hingga pemimpin redaksi media kampus. Diskusi peluncuran menghadirkan tokoh-tokoh seperti Ray Rangkuti, Zahra Pramuningtyas, M. Fawwaz Farabi ( Ketua BEM FH UI ), serta Antonius Danar. Diskusi dipandu oleh Alif Iman sebagai moderator.

Dalam peluncuran buku Jejak Gelap Kekuasaan karya Ubedilah Badrun, aktivis senior Ray Rangkuti hadir dan menyampaikan refleksi tajam namun menggelitik. Ia membuka dengan gaya santai, menyebut dirinya bagian dari aktivis jalanan yang “enggak sempat nulis,” berbeda dengan Ubed yang masih konsisten menulis sebagai bentuk tanggung jawab intelektual.

Namun, isi pesannya serius: aktivis yang masuk ke dalam kekuasaan, saat itu pula ia berhenti menjadi aktivis. Menurut Ray, banyak aktivis pasca-reformasi justru terseret arus kekuasaan yang dahulu mereka lawan, dan kini ikut melegitimasi kekuasaan tersebut—bahkan tanpa rasa bersalah. Status sosial menjadi motivasi utama, bukan lagi nilai perjuangan.

“Di republik ini,” ujar Ray, “menjabat itu bukan lagi soal pengabdian, tapi status sosial. Bahkan hanya pembawa tas pun, asal punya jabatan, tetap dihormati.”

Ray juga menyoroti lemahnya pertanggungjawaban dari para pejabat. “Pejabat kita berlimpah, tapi yang mau bertanggung jawab bisa dihitung jari,” sindirnya.

Pernyataan Ray menjadi pengingat penting bahwa reformasi belum selesai, terutama ketika justru mereka yang pernah meneriakkan perubahan kini duduk diam di kursi kekuasaan.

Dipilihnya Beranda Komunitas Utan Kayu sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Tempat ini dikenal sebagai ruang demokratis yang terbuka bagi kritik dan refleksi sosial politik. Dalam atmosfer yang penuh semangat, Jejak Gelap Kekuasaan hadir sebagai catatan penting keberanian intelektual di tengah situasi demokrasi yang terus diuji. *** Iws

Tag: