Sketsa Nusantara — Persoalan ijazah palsu yang diduga dimiliki oleh mantan penguasa yaitu Joko Widodo sebetulnya berawal dari bukunya Bambang Tri yaitu Jokowi Undercover.
Jokowi undercover saat ini masih diperbincangkan khalayak ramai, membahas soal yang sudah sampai pada puncak untuk pembuktian bahwa ijazah yang dimiliki oleh Joko Widodo diduga palsu. lantaran tidak adanya kejelasan dari berbagai pihak, ungkap Yadhie Mohammad Pers Anggota PJMI.
Bagaimana memahami Isi dari substansi kebenarannya karena sudah kita ungkap di persidangan baik perdata dua kali di Jakarta maupun pidana di pengadilan solo, “kota Jokowi itu”, jelas Juju Purwantoro SH.
Ijazah yang diduga palsu nih enggak ada habisnya, bergulir terus baik di media TV, maupun media online karena sampai saat ini secara tim pembela hukum dalam kasus persoalan ijazah Jokowi sejak tahun 2020 sampai sekarang 2025 TPUA menyatakan belum terkuak, korbannya Bambang Tri dan Gus Nur Karena mereka ditahan sampai 3 tahun, yaitu korban ketidakadilan rezim di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, malah dipidana pasal ujaran kebencian waktu itu padahal tidak ada kaitannya, karena sampai sekarang setelah pengadilan pertama, pengadilan banding maupun pengadilan Kasasi memang belum pernah terbukti karena JPU sendiri pada kasus itu tidak pernah menunjukkan Ijazah asli Jokowi, komentar Bang Juju salah satu anggota TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis) yang juga aktif untuk melakukan pembelaan terhadap gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat saat ditemui wartawan di rumahnya bilangan Jagakarsa Jakarta Selatan, kemarin. Rabu 25/06/25.
lebih mengerucut yaitu soal ditemukannya indikasi bahwa ijazah Joko Widodo dicetak di pasar pramuka, kita mendengar info bahwa kasus yang sekarang sedang ramai yaitu orang menyebutnya UPP, Universitas Pojok Pramuka.
Sekilas bagi kalangan Pelajar dan Mahasiswa sudah terkenal UPP Universitas Pramuka. Menjadi tempat apa saja bisa istilahnya Anak Betawi, Palugada apa lu minta? Gua ada, Seloroh Juju Purwantoro mau bikin KTP, KK, bikin surat keterangan nikah, berbagai macam dokumen yang resmi negara termasuk Ijazah, dari tingkat sekolah pertama, menengah pertama, sekolah atas maupun universitas semua segala rupa ada. Oleh sebab diketemukan oleh Betor Suryadi yang juga adalah salah seorang aktivis PDI Perjuangan terkait dugaan jejak atau dugaan kuat bahwa ijazah sarjana S1 Fakultas Pertanian Jokowi itu dibuat di UPP.
Betor juga mengatakan bahwa ada kelompok Solo genk, Solo istilah beliau ada genk Jakarta. dia sebutkan nama-nama misalnya antara lain Deni Iskandar, ada juga Widodo namanya serupa. Gonjangganjing atau kemelut ijazah yang diduga palsu dimiliki oleh mantan penguasa ini sebetulnya menggali kuburan sendiri, yang paling bertanggung jawab dalam tanda petik menurut Juju Purwantoro adalah PDIP.
Dengan adanya penemuan yang dalam tanda petik sebetulnya masih dini dikatakan benar meskipun sudah ada bukti kecurigaan pasarnyapun dibakar. Sambung masalah kebakaran itu fenomena seperti itu menjadi kebiasaan, contoh konkret dan jelas itu adalah kita masih ingat Kejaksaan Agung.
Bagaimana itu bisa terjadi karena adanya sebab akibatnya kebakaran, apakah ini sifatnya bisa asumsi atau sebetulnya untuk menghilangkan fakta?. Hal ini sama dengan sedang membuka borok selain rezim juga eksistensi dari Universitas Gajah Mada bahwa sampai saat ini Universitas Gajah Mada sendiri tidak mengakui mereka membuat ijazah palsu seperti itu.
Oleh karenanya juga sangat aneh menurut kami bahwa yang di laporkan TPU, Tim Pembela, Ulama dan Aktivis di Bareskrim dihentikan dialihkan semua dikonsentrasikan ke Polda Metro Jaya. Nah ini kami tetap menghendaki agar transparan, terbuka, profesional dan demi hukum sesuai dengan anjuran pengadilan supaya masyarakat juga jelas.
Juju Purwantoro sebagai salah salah satu anggota TPUA mendesak atau mendorong agar Bareskrim Polri tetap memeriksa menyelidiki kasus ijazah dugaan ijazah palsu ini karena ditemukan salah satunya adalah bukti-bukti di pasar pramuka. Jadi, oleh karenanya sekali lagi kami tekankan, kami ingatkan pihak Bareskrim harus segera mengadakan penyelidikan dan jangan ditutup, tandasnya.*** Iws








