Jakarta – Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) KEMKOMDIGI bersama Komisi I DPR RI, H. Oleh Soleh, S.H, mengadakan webinar Forum Diskusi Publik dengan tema:
“Akselerasi Investasi dan Perdagangan global”
Pada hari Senin, 9 Maret 2026 lalu, Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Narasumber 1
H. Oleh Soleh, S.H, (Anggota Komisi I DPR RI)
Dalam kesempatan tersebut, narasumber menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang telah berperan sebagai penyambung informasi kepada masyarakat sekaligus sebagai pemangku kebijakan di bidang komunikasi dan digital. Melalui berbagai program literasi dan diseminasi informasi, Komdigi dinilai terus berupaya melakukan inovasi agar berbagai kebijakan pemerintah, termasuk program Asta Cita Presiden Prabowo yang dijalankan oleh Kabinet Merah Putih, dapat dipahami oleh masyarakat secara luas. Harapannya, masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat bersama-sama mendukung serta berpartisipasi aktif dalam menjalankan berbagai program pembangunan nasional.
Narasumber juga menekankan pentingnya peningkatan literasi masyarakat dalam berbagai bidang, baik literasi digital, literasi keuangan, maupun pemahaman terhadap berbagai potensi risiko di ruang digital. Hal ini menjadi penting mengingat saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan baru seperti perjudian online, pinjaman online ilegal, hingga dampak negatif penggunaan media sosial, khususnya bagi anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan upaya sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus terhindar dari berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi digital.
Lebih lanjut, dalam konteks akselerasi investasi dan perdagangan global, narasumber menjelaskan bahwa Indonesia perlu terus beradaptasi dengan perkembangan global agar tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi internasional. Kemajuan suatu negara tidak dapat dilepaskan dari keterbukaan terhadap kerja sama dan investasi dari berbagai pihak. Indonesia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu berinteraksi dan berkolaborasi dengan negara lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam hal ini, investasi, khususnya di sektor finansial dan pengembangan sumber daya manusia, menjadi salah satu faktor penting yang dapat mempercepat pembangunan dan kemajuan ekonomi Indonesia.
Dari sisi legislatif, khususnya DPR, narasumber menegaskan bahwa salah satu aspek yang sangat penting dalam mendorong investasi adalah terjaminnya keamanan dan stabilitas negara. Tanpa adanya rasa aman dan kepastian hukum, akan sulit bagi Indonesia untuk menarik minat investor. Oleh karena itu, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif bagi kegiatan ekonomi dan investasi.
Selain itu, narasumber juga menyoroti bahwa konsep keamanan saat ini tidak lagi terbatas pada ancaman fisik seperti kejahatan konvensional. Perkembangan teknologi telah menghadirkan dimensi baru dalam aspek keamanan, yaitu keamanan di ruang digital. Berbagai aktivitas di dunia maya kini dapat memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi di dunia nyata. Oleh sebab itu, rasa aman dan nyaman tidak hanya perlu diwujudkan di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital dan media sosial. Dengan terciptanya lingkungan digital yang aman, nyaman, dan kondusif, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus mendukung terciptanya iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Narasumber 2
Aditia Prasta, S.T., M.M. ( Direktur Perencanaan Makro Investasi BKPM)
Dalam sesi pembuka, narasumber memaparkan transisi krusial yang tengah dihadapi dunia, yakni pergeseran dari paradigma VUCA menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Narasumber menjelaskan bahwa dalam kondisi yang kian “rapuh” ini, organisasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan fleksibilitas, melainkan harus membangun resiliensi atau ketangguhan yang sistemik. Di tengah ketidakpastian tersebut, narasumber mencontohkan Surabaya sebagai representasi pusat ekonomi digital baru di Indonesia, di mana peran generasi muda menjadi penggerak utama dalam menghadapi dinamika global yang semakin sulit diprediksi secara linear.
Selanjutnya, narasumber membedah kondisi investasi global yang menunjukkan wajah ganda. Meskipun pasar swasta saat ini sedang lesu dengan aktivitas penggalangan dana terendah sejak 2016, Investasi Langsung Asing (FDI) justru diproyeksikan akan tumbuh sebesar 14% hingga menyentuh angka $1,6 Triliun pada tahun 2025. Narasumber mencatat bahwa fokus utama investor kini tertuju pada sektor-sektor strategis seperti teknologi hijau, energi terbarukan, transportasi listrik, dan infrastruktur digital. Namun, narasumber juga memberikan catatan penting bahwa pertumbuhan ini sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam memitigasi risiko fragmentasi geopolitik serta tekanan inflasi global yang masih tinggi.
Terkait faktor risiko, narasumber menyoroti dampak nyata dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah mendorong harga emas hingga mencapai angka fantastis USD 5.278 per ons pada Maret 2026. Selain itu, hambatan perdagangan antara Tiongkok dan Eropa serta berbagai kebijakan proteksionisme dinilai narasumber sebagai penghalang bagi kepercayaan investor. Sebagai langkah antisipasi, narasumber menyarankan para pemangku kepentingan untuk segera melakukan diversifikasi portofolio dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) guna memitigasi risiko keamanan siber serta mendeteksi potensi guncangan pasar lebih awal.
Di sisi perdagangan global, narasumber mengamati adanya perubahan pola pikir dari model Just-in-Time yang ringkas menuju model Just-in-Case yang lebih menekankan pada keamanan cadangan logistik. Walaupun total nilai perdagangan global berhasil menyentuh rekor $35 Triliun, narasumber mencatat adanya perlambatan pertumbuhan volume di angka 2,6%. Untuk mengatasi disrupsi rantai pasok ini, narasumber mendorong penerapan strategi friend-shoring atau kerja sama dengan negara-negara sekutu, serta mengoptimalkan instrumen kredit perdagangan untuk menjaga likuiditas perusahaan di tengah ketidakstabilan pasokan global.
Narasumber kemudian memposisikan akselerasi digital sebagai penyelamat dalam menghadapi kerentanan di era BANI. Pemanfaatan teknologi seperti IoT melalui sensor pintar terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya logistik hingga 45%, sementara platform e-commerce global memberikan peluang bagi UMKM untuk tetap kompetitif di kancah internasional. Narasumber meyakini bahwa teknologi blockchain akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan transparansi dan keamanan transaksi lintas batas yang lebih dapat dipercaya oleh semua pihak.
Sebagai penutup, narasumber menyimpulkan bahwa kunci kesuksesan di masa depan bukanlah akurasi dalam memprediksi, melainkan kelincahan dalam belajar dari kekacauan. Rekomendasi strategis yang diberikan narasumber meliputi penguatan kemandirian teknologi dan ketahanan iklim bagi investor, serta audit berkala terhadap kerentanan rantai pasok bagi pelaku bisnis. Terakhir, narasumber menekankan pentingnya bagi regulator untuk mempererat perjanjian perdagangan regional guna memastikan stabilitas ekonomi di tengah badai geopolitik yang terus berkembang.
Narasumber 3
Atep Abdul Ghofar, S.Pdi (Tokoh Masyarakat)
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa akselerasi investasi dan perdagangan global merupakan upaya untuk mempercepat masuknya investasi lintas negara guna mendorong transformasi ekonomi, industrialisasi, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam perekonomian global. Indonesia memiliki berbagai potensi yang dapat menarik investor, di antaranya pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam seperti nikel, bauksit, kelapa sawit, dan rempah-rempah, serta stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga. Selain itu, bonus demografi dan keterlibatan Indonesia dalam kerja sama regional seperti ASEAN dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) juga menjadi peluang besar dalam memperkuat perdagangan internasional.
Untuk mempercepat investasi global, pemerintah melakukan beberapa langkah strategis, antara lain reformasi regulasi melalui penyederhanaan perizinan berbasis Online Single Submission (OSS) dan penerapan Undang-Undang Cipta Kerja, pembangunan infrastruktur seperti kawasan industri, pelabuhan, serta jaringan logistik, serta hilirisasi sumber daya alam seperti pengembangan industri baterai kendaraan listrik berbasis nikel dan pembangunan smelter mineral. Di sisi lain, stabilitas makroekonomi juga terus dijaga melalui koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Investasi/BKPM.
Dalam bidang perdagangan internasional, pemerintah juga berupaya meningkatkan ekspor bernilai tambah serta memperluas pasar global melalui kebijakan tarif dan non-tarif, diplomasi ekonomi internasional, peningkatan kapasitas eksportir, serta integrasi data perdagangan. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui kegiatan misi dagang, yaitu kunjungan resmi pemerintah bersama pelaku usaha ke negara tujuan untuk memperluas akses pasar, menarik pembeli, dan memperkuat kerja sama ekonomi bilateral. Melalui berbagai strategi tersebut, diharapkan investasi dan perdagangan global dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan devisa negara, memperluas pasar bagi UMKM, serta meningkatkan citra ekonomi Indonesia di tingkat internasional.






Satu Komentar
Sign up for our affiliate program and watch your earnings grow!