Home / Sosial Ekonomi dan Lingkungan / Ditjen KPM Kemkomdigi dan Komisi I DPR Gelar Webinar Pembangunan Desa, Koperasi dan UMKM

Ditjen KPM Kemkomdigi dan Komisi I DPR Gelar Webinar Pembangunan Desa, Koperasi dan UMKM

Jakarta – Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) KEMKOMDIGI bersama Prof. Dr. (H.C.) H. A. Halim Iskandar, M.Pd mengadakan webinar Forum Diskusi Publik dengan tema:

“PEMBANGUNAN DESA, KOPERASI DAN UMKM”

Pada hari Selasa,10 Maret 2026 lalu,Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

 

Narasumber 1

Prof. Dr. (H.C.) H. A. Halim Iskandar, M.Pd (Anggota Komisi I DPR RI)

Dalam sambutannya, narasumber menyampaikan apresiasi kepada para pemateri yang telah bersedia hadir dan berbagi pengetahuan dalam kegiatan webinar tersebut. Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Dony selaku Ketua Siberkreasi yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam mendorong literasi digital di Indonesia. Narasumber menekankan bahwa hingga saat ini literasi digital masih menjadi salah satu tantangan yang cukup besar di masyarakat. Hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang belum mampu menyaring dan memverifikasi informasi yang beredar di ruang digital.

Narasumber juga menyampaikan penghargaan kepada narasumber kedua, Dr. Supriyanto dari Universitas Surabaya, yang di tengah kesibukannya tetap meluangkan waktu untuk berbagi wawasan dalam kegiatan tersebut. Selain itu, disinggung pula mengenai kondisi global yang saat ini tengah mengalami berbagai dinamika, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang sebagian dipengaruhi oleh ketidakseimbangan informasi. Dalam menyikapi berbagai persoalan kemanusiaan tersebut, masyarakat diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih lanjut, narasumber menilai bahwa tema webinar yaitu “Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM” sangat relevan dengan kondisi saat ini. Pembangunan ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan warga. Ketika kondisi ekonomi masyarakat membaik, maka berbagai kebutuhan dasar keluarga, termasuk pemenuhan gizi, dapat terpenuhi dengan baik. Hal ini juga berpengaruh terhadap upaya pencegahan stunting serta peningkatan kualitas generasi masa depan.

Dalam konteks tersebut, penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi menjadi salah satu langkah strategis yang sedang didorong pemerintah. Koperasi dipandang sebagai sistem ekonomi berbasis kekeluargaan yang dapat menjadi wadah bagi masyarakat desa untuk mengelola kegiatan ekonomi secara bersama. Gagasan pembentukan koperasi di setiap desa diharapkan mampu memperkuat perekonomian masyarakat serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga.

Sebagai penutup, narasumber menekankan bahwa keberhasilan program pembangunan desa, koperasi, dan UMKM sangat bergantung pada komitmen bersama dalam menjalankan dan mengimplementasikannya. Diharapkan kegiatan diskusi dalam webinar ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi juga dapat mendorong berbagai pihak untuk menindaklanjutinya melalui langkah-langkah nyata di lapangan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Narasumber 2

Donny B.U. S.T., M.Si. (Co-Founder ICT Watch)

Narasumber menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah desa yang sangat besar, yaitu lebih dari 75 ribu desa dengan sekitar 40 persen penduduk tinggal di wilayah pedesaan. Saat ini desa juga mulai memasuki era digital dengan meningkatnya akses internet, meskipun masih terdapat kesenjangan konektivitas antara desa dan kota.

Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi desa. Aktivitas ekonomi di desa sebagian besar digerakkan oleh UMKM dan koperasi yang menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi digital, pelaku usaha desa dapat memperluas akses pasar serta meningkatkan nilai ekonomi produk yang dihasilkan. Selain itu, narasumber menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi dalam transformasi desa digital. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap keamanan digital, kemampuan menyaring informasi, serta memanfaatkan teknologi secara produktif.

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi desa, penguatan koperasi modern juga menjadi hal penting. Koperasi berperan dalam menghubungkan pelaku usaha desa, memperkuat posisi UMKM, serta membantu distribusi produk masyarakat. Dengan dukungan digitalisasi, koperasi diharapkan dapat dikelola secara lebih modern dan efisien. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan desa berbasis koperasi, UMKM, dan teknologi digital memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemanfaatan teknologi. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi desa serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

 

Narasumber 3

Dr. Supriyanto, M.Pd (Akademisi)

Dalam sesi pemaparannya, narasumber menekankan bahwa desa merupakan pilar utama bagi pemerataan ekonomi nasional yang inklusif. Menurut narasumber, visi besar pembangunan desa saat ini berfokus pada penguatan koperasi dan UMKM sebagai motor penggerak produktivitas serta kemandirian warga. Beliau menjelaskan bahwa transformasi ini bukan hanya soal pertumbuhan angka, melainkan bagaimana menciptakan lapangan kerja di tingkat akar rumput dan memastikan bahwa setiap desa mampu mengelola potensinya secara mandiri agar tidak tertinggal dalam arus ekonomi modern.

Namun, narasumber tidak menampik adanya berbagai tantangan nyata di lapangan yang masih menjadi hambatan besar. Beliau mengungkapkan bahwa sekitar 43% desa di Indonesia masih dikategorikan tertinggal, ditambah dengan kendala infrastruktur digital di mana 38% wilayah belum memiliki koneksi internet yang stabil. Selain masalah fisik, narasumber juga menyoroti rendahnya literasi finansial pelaku usaha desa yang mencapai 55%, sehingga banyak UMKM lokal yang belum mampu mengakses sistem perbankan secara optimal. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan rantai distribusi yang membuat produk unggulan desa seringkali sulit menembus pasar yang lebih luas.

Sebagai solusi konkret, narasumber memperkenalkan inisiatif strategis bertajuk Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Program yang ditargetkan tuntas pada tahun 2026 ini memiliki misi ambisius untuk membentuk 80.000 koperasi di seluruh pelosok negeri, yang terdiri dari 75.000 koperasi di tingkat desa dan 5.000 koperasi di tingkat kelurahan. Narasumber menekankan bahwa KDMP bukan sekadar nama, melainkan sebuah ekosistem pendukung yang dirancang untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi lokal di bawah satu payung hukum yang kuat dan kredibel.

Terkait aspek pendanaan, narasumber memaparkan komitmen pemerintah yang sangat signifikan melalui alokasi dana sebesar Rp34,57 Triliun, atau setara dengan 58,03% dari total alokasi Dana Desa. Dana masif ini, menurut narasumber, akan disalurkan langsung ke rekening desa untuk mempercepat pembangunan fasilitas fisik seperti gudang, gerai koperasi, serta infrastruktur pendukung lainnya. Beliau juga merinci skema pembiayaan yang sangat kompetitif, yakni pemberian plafon pinjaman hingga Rp3 Miliar per koperasi dengan suku bunga rendah hanya 6% dan tenor yang panjang, guna memberikan ruang napas bagi koperasi untuk berkembang tanpa terbebani biaya modal yang berat.

Lebih lanjut, narasumber menggarisbawahi pentingnya digitalisasi sebagai katalis pertumbuhan UMKM desa yang saat ini mencatatkan tren positif sebesar 12% per tahun. Beliau meyakini bahwa dengan memberikan pelatihan pemasaran digital dan manajemen keuangan, produk desa bisa bersaing di level nasional. Narasumber menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga lembaga keuangan dan media, untuk bersinergi membangun ekosistem yang suportif. Bagi narasumber, keberhasilan program ini akan menjadi tonggak sejarah di mana desa tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang berdaya saing global.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *