Oleh : Azis Khafia
Betawi Intellectual Networks (BIN)
Andilan kerbau adalah tradisi patungan khas Betawi untuk membeli dan menyembelih kerbau secara bersama-sama menjelang Hari Raya Idul fitri. Tradisi turun-temurun ini mencerminkan gotong royong, kebersamaan, dan silaturahmi. Warga membeli kerbau sebulan sebelum Lebaran, dipelihara, dan disembelih pada H-2 atau H-1 untuk dibagikan dagingnya kepada peserta andilan/patungan/engkowan. bahkan ada yang hanya ikut andilan namun dagingnya sengaja diberikan kepada tetangga dan masyarakat terdekat.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai tradisi Andilan kerbau :
Asal-usul : Berakar dari kebudayaan Betawi, khususnya di area pinggiran seperti Depok dan Jakarta sekitarnya
Bertujuan : Untuk berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan memastikan warga mendapatkan daging berkualitas untuk Lebaran.
Prosesnya diawali dengan musyawarah untuk mufakat bahwa warga setempat mengumpulkan uang sebulan sebelum Ramadan, kerbau disembelih mendekati Lebaran, dan dagingnya dibagi rata sesuai jumlah warganya.
Alasan hewan Kerbau yang biasa dipilih adalah, karena daging kerbau lebih tahan lama (tidak cepat basi) dibandingkan daging sapi, sehingga bumbu menyerap lebih awet dan serasa makin nimat, alasan lain adalah historis kebudayaan pada masa awal peradaban agama di batavia, masyarakat masih beragama hindu, sehingga sebagai wujud toleransi dipilih hewan kerbau untuk menghormati agama hindu yang mensucikan hewan sapi, ada pesan toleransi pada tradisi andilan (patungan) menjelang hari raya.
Makna dan pesan lainnya selain pesan toleransi pada tradisi andilan adalah wujud gotong royong, kolaborasi, dan salah satu cikal bakal tradisi menabung bersama atau patungan/ engkowan (kalau bahasa betawinya). pesan mendalam lainnya adalah memasuki hari raya idul fitri (lebaran), diharapkan adanya penyebaran kebahagian dengan berbagi makanan (daging kerbau) berupa masakan semur daging kerbau. Inilah pesan sosial kemanusian bahwa berbagi dan berbahagia untuk sesama adalah pesan moral betawi dalam tradisi andilan.
Tradisi ini sempat mulai jarang ditemui di tanah betawi namun terus diupayakan untuk dilestarikan, bahkan didukung oleh Majelis Kaum Betawi bersama pemerintah daerah Jakarta sebagai bagian dari budaya tak benda khas Betawi yang harus dilestarikan dan dikembangkan karena sangat kaya dengan pesan, kesan dan nilai kearifan betawi yang tinggi.








